sifat hakikat dalam bukti

kalau berani hidup,
di situlah akan adanya mati..
kalau bersenjatakan roh,
peperangannya ialah ajal.

Sunday, 6 October 2013

kasihan dia

Dimana hujungnya rindu itu??
Sekian lama tidak jelmakan diri...
Tiba-tiba menggoncang sanubari...
Tak lesap sebenarnya...sendirian dia..

Di mana hujungnya rindu itu...?
Bertahun bungkam tidak ada kisah...
Namun menyampuk tika hati mulai senang...
Remuk redam jua jadi makanan...

Di mana hujungnya rindu itu???
Walau muka berkerut seribu...
Datangnya macam hujan api...
Terbakar baju-baju buruk dia...
Katanya masih bersisa walaupun kotor...

Mustahil tiada cemuhan dan rintihan...
Dia pandai berlakon..
Sebenarnya dia menelan duri..
Katanya zaman gelap telah tamat...
Dia telah terima sinar dan jua cahaya...
Tapi...cahaya itu dari mentari kecewa..
Memang terbakarlah seluruhnya...
Kasihan dia...
Bercinta separuh mati...
Menyayangi tak ingat diri...
Sampai sekarang makan hati...
dia kata sudah tutup cerita lama...
dia kata semuanya sudah normal...
sekali dilibas cemeti lampau...
terhuyung-hayang koyak isi-isi...
kasihan dia...
sekarang sudah tak pandai memberi...
sebab dahulu terlalu banyak memberi...
hati dia tempang...
cacat hatinya...
siapa kisah??
Aku tetap kisah...

Sebab dia itulah diriku...

Friday, 20 September 2013

Untukmu Selawat dan Salam...

Rasa rindu itu terus memuncak...
Tapi aku tidak tahu di mana kemuncaknya...
Aku bukan Ghaus ul ‘azam sayyid Abdul Baqi..
Bukan pula Habib Umar...
Tidak jua Habib Munzir...
Aku Cuma insan belajar-belajar rindu...

Meniti di dahanan da’wah ini...
Aku rasa bila-bila saja aku akan jatuh...
Namun rasa rindu terhadapmu bagai pelita...
Yang sumbunya terus ku ganti bila sampai hujungnya...

Wahai Nabi Allah Sayyidina Muhammad...
Bila aku akan melihatmu lagi...
Merasai rasa kasihmu dari raut wajah suci..
Menghidu wangianmu dari hidung ini sendiri...
Merangkul jasad pengorbananmu...

Entah bila akan ku lihatmu lagi...
Sebenar-benar dikau wahai kekasih...
Wahai kekasih...wahai kekasih...wahai kekasih...
Rasa rindu ini aku tulis dan terus tulis...
Aku tidak tahu bagaimana nak ku terjemah rasa ini...

Wahai Rasulullah...
Tinta-tinta ini adalah tinta air mata...
Ku hampar penulisannya dalam hati...
Tapi hati ini kotor...
Bersepah dengan isi duniawi...

Wahai Rasulullah...
Benar hebat tamparan rindu kali ini...
Setelah ku dengar pewaris-pewarismu pergi...
Pergi menemuimu abadi...

Wahai Rasulullah...
Baris gigimu di mataku...
Ku masih lihatnya berseri di mataku...
Bila waktu akan bertaut membawaku bertemumu...
Wahai Rasulullah...
Aku adalah pendosa yang tak pernah lesai berhutang dengan Tuhan...
Namun aku terus ingin mengenalimu...
Memahami sifatmu,mendalami keperibadiaanmu...
Sungguh aku terasa malu...
Mencintaimu tanpa pengorbanan...

Wahai Rasulullah...
Wahai Rasulullah...
Wahai Rasulullah.....
Menjadi da’ie itu umpama meletak gunung di atas pundak...
Saat daku rebah,gunung itu meniduri aku...
Hancur punah kekuatanku...
 Wahai Rasulullah...
Tiada ucapan lebih bermakna buatmu kekasih...
Sekadar ucapan selawat dan salam yang mulia...

Untukmu kekasih Allah....